PURWOKERTO - Pada Selasa (20/1) Keterbatasan lahan bukan menjadi penghalang bagi Bapas Kelas II Purwokerto untuk terus produktif. Memanfaatkan area kosong di lingkungan kantor, jajaran pegawai Bapas Purwokerto berhasil melakukan panen sayuran kangkung yang tumbuh subur nan hijau. Kegiatan ini bukan sekadar aktivitas bercocok tanam biasa, melainkan langkah strategis dalam mengimplementasikan 13 Program Akselerasi yang dicanangkan oleh Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, khususnya dalam poin ketahanan pangan.

Suasana pagi di lingkungan Bapas Purwokerto tampak lebih bersemangat dari biasanya. Hijau segar tanaman kangkung yang ditanam dengan metode optimalisasi lahan sempit siap dipetik. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut konkret dari 15 Program Aksi yang menjadi turunan dari program akselerasi kementerian, yang menuntut satuan kerja untuk inovatif dan adaptif terhadap kondisi lingkungan kerja masing-masing.
Kepala Bapas Kelas II Purwokerto, Bluri Wijaksono, menegaskan bahwa kegiatan ini adalah bukti komitmen Bapas Purwokerto dalam mendukung program nasional.
"Kami tidak menjadikan keterbatasan luas tanah di area kantor sebagai alasan untuk pasif. Sebaliknya, ini memicu kreativitas kami. Panen kangkung hari ini adalah simbolisasi dari semangat produktivitas yang ingin kami bangun. Ini adalah tindak lanjut nyata kami terhadap 13 program aksi dari 15 program akselerasi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan. Kami ingin menunjukkan bahwa ketahanan pangan bisa dimulai dari skala paling kecil, yakni lingkungan kantor sendiri, " ujar Bluri di sela-sela kegiatan panen.
Strategi Pemanfaatan Lahan
Keberhasilan panen ini tidak lepas dari tangan dingin bagian Tata Usaha yang jeli melihat potensi sudut-sudut kantor yang belum termanfaatkan. Kepala Urusan Tata Usaha (Kaur TU) Bapas Purwokerto, Dewi Umbarawati, menjelaskan teknis pelaksanaan program ini. Menurutnya, perawatan kangkung relatif mudah namun membutuhkan konsistensi.
"Kami memetakan area mana saja yang terkena sinar matahari cukup namun selama ini terbengkalai. Walau lahan terbatas, dengan penataan yang baik, kita bisa menanam kangkung yang hasilnya cukup memuaskan. Selain membuat lingkungan kantor menjadi lebih asri dan hijau, hasil panen ini juga dapat dinikmati bersama, menciptakan kebersamaan yang lebih erat antar pegawai, " ungkap Dewi.
Dewi juga menekankan bahwa kegiatan ini akan dilakukan secara berkelanjutan, tidak hanya berhenti pada satu kali panen. Rotasi tanaman dan penggunaan pupuk organik menjadi fokus berikutnya untuk menjaga kesuburan tanah yang terbatas tersebut.
Sarana Bimbingan Klien

Di sisi lain, kegiatan pertanian perkotaan (urban farming) ini juga memiliki dimensi pembinaan. Kepala Sub Seksi Bimbingan Klien Dewasa (Kasubsi BKD), Elingriyanti, melihat potensi besar dari kegiatan ini sebagai sarana edukasi bagi Klien Pemasyarakatan.
"Bapas memiliki fungsi pembimbingan. Melalui contoh nyata seperti ini, kami ingin memberikan wawasan kepada Klien Pemasyarakatan bahwa mereka pun bisa produktif di rumah masing-masing meski dengan lahan seadanya. Keterampilan bertani sederhana ini adalah bekal kemandirian yang berharga. Jadi, panen ini memiliki nilai ganda: produktivitas internal pegawai dan materi bimbingan kemandirian bagi klien kami, " jelas Elingriyanti.

Kegiatan panen diakhiri dengan pembersihan lahan untuk persiapan masa tanam berikutnya. Bapas Kelas II Purwokerto berharap langkah kecil ini dapat memberikan kontribusi positif dalam mendukung visi besar Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, serta menjadi inspirasi bahwa produktivitas dapat tumbuh di mana saja, selama ada kemauan untuk berinovasi.(Humas Bapas Purwokerto)

Devira Arum